Secara blak-blakan, Ustaz Abdul Somad (UAS) melalui akun media sosialnya mengklaim mendapatkan ancaman dan intimidasi di sejumlah daerah, khususnya di Jateng, untuk acara tausiyah. Oleh karena itu, ia memilih untuk membatalkan janji ceramahnya di Wilayah Jatim, Jateng, dan Yogyakarta.
Terkait penolakan dan intimidasi yang diklaim UAS telah terjadi di Jepara, Jateng, Banser NU dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Pasalnya, ormas kepemudaan di bawah NU inilah yang dinilai paling getol mengusung tagline "NKRI Harga Mati!" sehingga merasa "alergi" terhadap kehadiran UAS yang diduga telah ditunggangi oleh HTI yang telah resmi dibubarkan pemerintah.
Lantas, bagaimana reaksi Banser atas tudingan tersebut?
Ketua Umum PP GP Ansor yang juga Panglima Banser NU Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) menegaskan, hendaknya tabayyun perlu dikedepankan dalam menyikapi berbagai persoalan agar yang samar menjadi jelas.
Terkait kabar penolakan UAS di Jepara, Gus Yaqut, seperti dikutip baldatuna.com (4 September 2018), menyayangkan adanya upaya memainkan strategi "playing victim" bahwa UAS diancam, dihadang, dan diintimidasi oleh Ansor dan Banser.
Gus Yaqut menegaskan bahwa ustaz juga manusia. Menurutnya, bisa saja dia tergoda gemerlap panggung dunia. Mumpung ada momentum, pihak manajemen berusaha mengolahnya sedemikian rupa untuk mendongkrak rating.
Padahal, NU mengenal konsep tabayyun untuk mendudukkan perkara yang samar menjadi jelas. Kalau tiba-tiba muncul pernyataan dihadang, diintimidasi, dipersekusi, atau dihalangi, kata Gus Yaqut, konsep indah tentang tabayyun itu belum dikenalnya.
Dari peristiwa tersebut, Gus Yaqut menyarankan sebaiknya memang dicari dulu kebenarannya lewat tabayyun, bukan asal komentar, lalu membentuk laskar-laskar pembela. Ibarat makan, sebaiknya dikunyah dulu, bukan langsung ditelan karena bisa berefek mematikan.
Hal senada juga disampaikan Ketua PC GP Ansor Jepara Syamsul Anwar. Dengan tegas ia membantah pihaknya telah mengancam UAS hingga batal hadir di Jepara. Meski demikian, ia mengakui adanya pro dan kontra perihal kedatangan UAS. Pasalnya, setelah tim UAS survei ke lapangan, seorang anggota tim terlihat mengenakan topi berlogo bendera Ormas terlarang HTI.
Situasi agak memanas ketika GP Ansor Jepara menawarkan opsi-opsi agar pengajian tetap berjalan dan peringatan milad tetap meriah setelah muncul kabar UAS batal hadir. Namun, tak direspons sehingga ia menginisiasi apel kebangsaan yang diikuti ribuan anggota Ansor dan Banser.
Hem, kuncinya memang tabayyun. Sayangnya, konsep indah semacam ini masih sering bersifat sloganistik dan retorik. Tak jarang ketika dihadapkan pada masalah-masalah krusial, sikap emosional lebih didahulukan sehingga cenderung mengumbar pernyataan yang hanya didasarkan pada dugaan, asumsi, dan prasangka.
Dan itulah akhirnya yang terjadi! Tabayyun belum dilakukan, tetapi sudah muncul klaim bahwa UAS diancam dan diintimidasi sehingga kian memicu kegaduhan. ***
Terkait penolakan dan intimidasi yang diklaim UAS telah terjadi di Jepara, Jateng, Banser NU dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Pasalnya, ormas kepemudaan di bawah NU inilah yang dinilai paling getol mengusung tagline "NKRI Harga Mati!" sehingga merasa "alergi" terhadap kehadiran UAS yang diduga telah ditunggangi oleh HTI yang telah resmi dibubarkan pemerintah.
Lantas, bagaimana reaksi Banser atas tudingan tersebut?
Ketua Umum PP GP Ansor yang juga Panglima Banser NU Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) menegaskan, hendaknya tabayyun perlu dikedepankan dalam menyikapi berbagai persoalan agar yang samar menjadi jelas.
Terkait kabar penolakan UAS di Jepara, Gus Yaqut, seperti dikutip baldatuna.com (4 September 2018), menyayangkan adanya upaya memainkan strategi "playing victim" bahwa UAS diancam, dihadang, dan diintimidasi oleh Ansor dan Banser.
Gus Yaqut menegaskan bahwa ustaz juga manusia. Menurutnya, bisa saja dia tergoda gemerlap panggung dunia. Mumpung ada momentum, pihak manajemen berusaha mengolahnya sedemikian rupa untuk mendongkrak rating.
Padahal, NU mengenal konsep tabayyun untuk mendudukkan perkara yang samar menjadi jelas. Kalau tiba-tiba muncul pernyataan dihadang, diintimidasi, dipersekusi, atau dihalangi, kata Gus Yaqut, konsep indah tentang tabayyun itu belum dikenalnya.
Dari peristiwa tersebut, Gus Yaqut menyarankan sebaiknya memang dicari dulu kebenarannya lewat tabayyun, bukan asal komentar, lalu membentuk laskar-laskar pembela. Ibarat makan, sebaiknya dikunyah dulu, bukan langsung ditelan karena bisa berefek mematikan.
Hal senada juga disampaikan Ketua PC GP Ansor Jepara Syamsul Anwar. Dengan tegas ia membantah pihaknya telah mengancam UAS hingga batal hadir di Jepara. Meski demikian, ia mengakui adanya pro dan kontra perihal kedatangan UAS. Pasalnya, setelah tim UAS survei ke lapangan, seorang anggota tim terlihat mengenakan topi berlogo bendera Ormas terlarang HTI.
Situasi agak memanas ketika GP Ansor Jepara menawarkan opsi-opsi agar pengajian tetap berjalan dan peringatan milad tetap meriah setelah muncul kabar UAS batal hadir. Namun, tak direspons sehingga ia menginisiasi apel kebangsaan yang diikuti ribuan anggota Ansor dan Banser.
Hem, kuncinya memang tabayyun. Sayangnya, konsep indah semacam ini masih sering bersifat sloganistik dan retorik. Tak jarang ketika dihadapkan pada masalah-masalah krusial, sikap emosional lebih didahulukan sehingga cenderung mengumbar pernyataan yang hanya didasarkan pada dugaan, asumsi, dan prasangka.
Dan itulah akhirnya yang terjadi! Tabayyun belum dilakukan, tetapi sudah muncul klaim bahwa UAS diancam dan diintimidasi sehingga kian memicu kegaduhan. ***


0 Response to "Rocky Gerung: Mulai Hari Ini Saya Bergabung dengan '2019TetapJokowi'"
Posting Komentar